Senin, 01 Desember 2014

Sinopsis Film Terbaru Raditya Dika : Marmut Merah Jambu


Produser : Chand Parwez Servia, Fiaz Servia

Sutradara : Raditya Dika

Penulis Naskah : Raditya Dika

Aktor dan Aktris : Raditya Dika, Christoffer Nelwan, Julian Liberty, Sonya Pandarmawan, Kamga Mo, Franda, Dina Anjani, Tio Pakusadewo, Jajang C. Noer, Kevin Julio, Pandji Pragiwaksono, Feby Febiola, Andovi Da Lopez, Anca Blanca, MC Danny, Boy Hamzah

Jadwal Tayang Marmut Merah Jambu di Bioskop Indonesia : 8 Mei 2014

Sinopsis dan Jalan Cerita Marmut Merah Jambu (2014)
Film yang diangkat dari novel yang berjudul sama bercerita tentang Dika (Raditya Dika) yang datang ke rumah Ina (Anjani Dina) seorang gadis yang merupakan cinta pertamanya sewaktu SMA. Disaat itu Dika juga membawa seribu origami burung bangau di tangan kanannya, dan undangan pernikahan Ina di tangan kirinya. Namun ironisnya, hari esok adalah hari penikahan Ina. Kedatangan Dika tidak diterima dengan baik oleh Bapak Ina (Tio Pakusadewo) yang curiga kedatangan Dika hanya untuk kasus cinta lama yang belum selesai dan berpikir bahwa Dika ingin menggagalkan pernikahan Ina.
Dika pun  menceritakan tujuan kedatangannya yang sebenarnya.

Kemudian kita flash back dulu melihat bagaimana masa lalu Dika (Christoffer Nelwan), dia berteman akrab dengan Bertus (Julian Liberty). Pada masa ini, Dika SMA jatuh cinta diam-diam kepada Ina. Baik Dika dan Bertus sama-sama sadar, untuk mendapatkan cewek di sekolah, mereka harus populer. Untuk itu Dika dan Bertus membuat grup detektif bersama Cindy (Sonya Pandarmawan). Mereka menyelesaikan kasus-kasus absurd yang terjadi di sekolahnya.
Semakin banyak kasus yang terselesaikan, semakin dekat Dika dengan tujuan akhirnya yaitu jadian dengan Ina. Di masa sekarang, seiring dengan Dika bercerita, seiring itu pula dia sadar ada sesuatu hal yang belum selesai dari masa lalunya. Selain itu pula dia bertanya 'benarkah cinta pertama tidak akan kemana-mana?'

Putri Kemang

Cerita Rakyat Suku Serawai (Bengkulu)
Genre : Dongeng


Putri Kemang adalah seorang perempuan, tetapi sifatnya seperti laki-laki. Kesukaannya pergi berburu, memancing ikan di sungai dan berjalan masuk hutan. Kampungnya terletak di pinggir hutan yang lebat. Bapaknya seorang raja. Oleh sebab itu Putrì Kemang seperti laki-laki dididik sebagai prajurit, belajar bermain pedang, memanah dan menombak.

Pada suatu hari Putri Kemang pergi berburu rusa. Peralatannya sebilah pedang dan sebatang tombak. Anjing kesayangannya dibawanya pula. Berjalanlah ia, masuk hutan keluar hutan, masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang, naik gunung turun gunung, batang air diseberangjnya. Kalau tidak pakai rakit, ia berenang. Setelah lama berjalan, bertemulah ia. dengan seekor rusa belang kakinya. Rusa dibidiknya dengan panah, tetapi tidak kena. Panas hatinya. Lalu dikejarnya rusa itu. Diikutinya terus ke mana perginya rusa itu. Sedikit pun tak lepas dari pandangannya. Setelah lama kejar mengejar itu, tiba-tiba rusa berhenti di bawah sebatang pohon kemang. Putri Kemang mendekat. Rusa menyingkir sedikit. Setelah Putri dekat dengan pohon kemang itu, lalu pokok kemang itu berkata kepada Putri,

"Hai putri, jangan kau kejar rusa itu. Rusa itu adalah seekor harimau."

Putri Kemang terkejut mendengar kata pokok kemang itu. la berpikir, akan mengapa ia sekarang. Bagaimana caranya menyuruh harimau itu lari, atau dibunuh saja. Lalu ia mengambil kesimpulan bahwa harimau itu akan dibunuhnya, walaupun ada risikonya. Naiklah ia ke atas pokok kemang itu. Harimau dibidiknya dengan panah. Akan panah mengena badan harimau itu. Harimau mati seketika itu juga. Lalu ia turun ke bawah. Setelah sampai di bawah, harimau itu dikulitinya dan kulitnya diambil.

Setelah harimau itu mati, suatu keheranan terjadi yaitu batang kemang itu bergerak, makin lama makin kelihatan ujudnya seperti seorang manusia. Berdirilah seorang pemuda gagah lagi tampan di hadapan Putri Kemang. Putri Kemang bertanya,

"Hai, siapa kamu ini sebenarnya? Mengapa engkau berubah dari sebatang kemang menjadi seorang manusia?"

"Aku ini seorang penunggu rimba di sini."

"Maukah kamu ikut berburu dengan aku ?" tanya Putrì Kemang.

"Aku tidak bisa meninggalkan rimba ini. Memang tugasku menjaga rimba ini. Aku mau saja pergi dan menjadi manusia sebenarnya, tetapi isi rimba ini harus jadi manusia dahulu, dan rimba ini menjadi sebuah negeri."

"Baiklah." kata Putrì Kemang.

"Aku berjanji, kalau hutan ini telah menjadi negeri dan engkau sudah menjadi manusia biasa, kau akan kujemput dan aku ingin berkawan dengan kamu."

Setelah berkata itu, lalulah Putrì Kemang dari sisi batang kemang tadi. la melanjutkan perburuannya. Tinggallah batang kemang besar penjaga hutan itu.

Setelah lama Putrì kemang berjalan, bertemulah ia dengan seekor kucing. Anjingnya menggonggong terus. Aneh sekali terjadi, kucing itu membesar badannya. Lalu dengan cepat sekali anjing Putrì Kemang diterkamnya, lalu mati dan langsung dimakannya.

Putrì Kemang mengambil keputusan untuk pulang. Kembalilah ia seorang diri, karena anjingnya sudah mati. Pada saat akan menyeberang sebuah sungai, terlihatlah olehnya serombongan buaya. Rupanya buaya-buaya itu lapar sekali. Berkatalah seekor buaya yang paling besar,

"Hai manusia, sekarang sudah tiba ajalmu akan kami makan."

Lalu sang Putii menjawab, "Hai buaya, saya tahu kamu adalah binatang gagah dan kuat. Kamu adalah raja di air. Tetapi aku belum yakin kalau kamu dapat melawan saya seorang ini. Seribu ekor buaya baru bisa melawan aku."

"Ah, hitung saja kami ini. Kalau kurang akan kupanggil kawan-kawanku."

"Baiklah, sekarang berbarislah kamu supaya aku dengan mudah menghitung kamu."'

Mulailah buaya-buaya itu berbaris sampai ke seberang sungai. Putrì Kemang mulai meloncati badan-badan buaya itu. Sambii melompat ia menghitung. Satu, dua, tiga empat, lima, enam, tujuh dan seterusnya. Belum sampai seribu ekor dihitungnya, ia sudah sampai ke seberang. Melompatlah ia ke atas tebing, sambii berkata dengan lantangnya,

"Terima kasih buaya-buaya yang tolol. Kamu terlalu serakah. Mana cukup dagingku yang sekecil ini untuk kamu semua. Cobalah kamu mencari makanan yang lain. Bukan hanya satu lubuk saja di dalam dunia ini."

Bukan mairi marahnya buaya-buaya itu. Mereka insaf akan kebodohannya.

Setelah Putri Kemang sampai di rumahnya kembali, berceritalah atas segala kejadian yang dialaminya selama dalam perburuannya itu, kepada ayah dan ibunya. Juga pertemuan yang aneh dengan sebatang kemang yang menjelma menjadi seorang pemuda gagah lagi tampan.

Setahun kemudian, Putrì Kemang pergi berburu lagi. Berangkatlah Putrì Kemang seorang diri menuju hutan. Putrì Kemang berjalan menelusuri sungai yang panjang sekali. Setelah tiga hari berjalan ia bertemu dengan sebuah kerajaan yang ramai sekali. Putrì Kemang merasa heran, di dalam hutan yang lebat ini ada sebuah negeri. Ketika sampai di pinggir kerajaan itu, ia bertemu dengan seseorang, lalu bertanya,

"Pak, apa nama negeri ini dan siapa rajanya?" Jawab orang tua itu,

"Negeri ini bernama negeri Kemang dan rajanya bernama Putra Kemang. Asal kejadian negeri ini adalah dahulunya hutan rimba yang lebat. Hutan rimba ini disebut hutan siluman, karena hutan ini jadi-jadian adanya. Bahkan binatang-binatang di dalamnya juga adalah makhluk jadi-jadian yang disumpah para dewata. Putra Kemang juga dahulu seorang dewa yang disumpah jadi batang kemang besar terletak di tengah-tengah hutan ini. Sumpah dewata, apabila ada seorang manusia dapat berbicara dengannya, maka kemang itu akan menjadi manusia biasa, dan seluruh isi hutan ini akan beralih rupa menjadi sebuah negeri yang besar."

Putri Kemang mengangguk-angguk penuh keheranan. la ingat peristiwa setahun yang lalu sewaktu ia masuk sebuah hutan dan bertemu dengan sebatang kemang yang dapat berbicara. Mungkin juga yang diceritakan oleh orang tua ini, adalah batang kemang dahulu, dan hutannya juga adalah hutan dahulu. Dan ia ingat pula dengan ucapannya tahun lalu, bahwa ia berjanji akan menjemput si Kemang, apabila Kemang telah menjadi manusia biasa. Berkatalah Putri Kemang,

"Pak, bawalah saya menghadap raja Putra Kemang!"

Maka berangkatlah Putri Kemang menuju istana Putra Kemang. Setelah sampai di depan Putra Kemang, Putra Kemang berkata, 

"Kalau tidak salah kamu ini Putrì yang bertemu dengan aku setahun yang lalu di dalam hutan itu."

"Betul tuanku" jawab Putrì Kemang. "Aku akan menepati janjiku setahun yang lalu itu, bahwa kalau engkau itu adalah pemuda kemang yang sekarang telah menjadi manusia biasa." 

"Benar, aku sekarang telah menjadi manusia biasa. Hutan itu telah menjadi negeri seperti apa yang kau lihat.". 

Maka keduanya berjanji akan bersahabat akrab. Sesuai pula ñama. keduanya seorang Putrì Kemang dan seorang lagi Putra Kemang. Diadakanlah pesta merayakan pertemuan kedua pemuda itu. Pada hari yang telah ditentukan Putrì Kemang akan mengajak putra Kemang pergi mengunjungi negeri ayahnya. Berangkatlah keduanya. Lima hari lima malam dalam perjalanan itu. Menjelang fajar pada hari kelima sampailah kedua pemuda itu di negeri ayah Putrì Kemang.-

Ayah Putrì Kemang menyambut kedua orang itu dengan gembira. Maka dijamulah Putra Kemang dengan penuh keakraban. Dicerìtakannyalah asal usul Putra Kemang. Raja tercengang mendengar cerità pemuda itu. Akhirnya Putri Kemang dijodohkan dengan Putra Kemang. 

Maka ditetapkannyalah hari baik untuk mengadakan perkawinan keduanya. Setelah perkawinan selesai, raja memberi kebebasan ke mana mereka akan menetap, artinya dalam adat disebut semendo raja-raja*). Setelah ayah Putri Kemang lanjut usianya, kerajaannya diserahkan kepada Putrinya dan kerajaan itu bersatu dengan kerajaan Putra Kemang.



*). Semendo raja-raja adalah suatu adat perkawinan di daerah Bengkulu, yang memberi
kebebasan kepada kedua pengantin dimana mereka akan tinggal setelah mereka
kawin. Di Bengkulu ada dua jenis perkawinan lagi yaitu:
1. Ambil anak,
2. Bleket (Rejang).


Informan tahun 1980 :
Limar Sipin (35 th) ds. Padang Genting, pekerjaan: tani.
Pendidikan: SR. Bahasa: Serawai, Bengkulu dan Indonesia

Banta Seudang

Cerita Rakyat dari Aceh
Genre : Dongeng


Banta Seudang adalah putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas-tugas kerajaan. Suatu ketika, Banta Seudang pergi merantau untuk mencari obat mata untuk ayahnya dengan harapaan dapat kembali menjadi raja. Berhasilkah Banta Seudang menemukan obat mata untuk ayahnya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Banta Seudang berikut ini.



Alkisah, di Negeri Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, hiduplah seorang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang permaisuri yang sedang hamil tua. Suatu ketika, sang Raja pergi berburu binatang ke hutan. Ketika itulah permaisurinya melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan di istana, dan diberinya nama Banta Seudang. Namun, malang nasib bagi sang Raja, karena ia tidak bisa melihat wajah tampan putranya. Kedua matanya buta terkena ranting kayu saat berburu di hutan. Sejak saat itu, ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugas kerajaan lagi. Oleh karena Banta Seudang masih bayi, maka tahta kerajaan ia serahkan untuk sementara kepada adik kandungnya. Namun, sang Adik yang baru diangkat menjadi raja itu sangat licik dan serakah. Ia membuatkan sebuah rumah agak jauh dari istana untuk tempat tinggal kakaknya bersama istri dan Banta Seudang. Raja baru itu setiap hari mengirim bantuan makanan untuk kebutuhan sehari-hari sang Kakak bersama keluarganya.

Waktu terus berjalan. Banta Seudang tumbuh menjadi remaja yang tampan. Ia pun mulai bertanya-tanya kepada ibunya tentang siapa yang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, padahal ayahnya buta.

“Maaf, Ibu! Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Ibu,” kata Banta.
“Ada apa, Anakku? Katakanlah!” seru sang Ibu.
“Dari mana kita mendapat makanan setiap hari, padahal Ayah tidak pernah bekerja?” tanya Banta ingin tahu.
“Ketahuilah, Anakku! Kebutuhan hidup sehari-hari kita dibantu oleh Pakcikmu yang kini menjadi Raja,” jawab ibunya.
“Pakcik baik hati sekali ya Bu,” kata Banta.
“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu sambil tersenyum seraya membelai-belai rambut si Banta.

Pada suatu hari, sang Ibu bersama Banta Seudang pergi menghadap sang Raja. Di hadapan Raja, sang Ibu memohon kepada Raja untuk membantu Banta Seudang agar bisa bersekolah. Namun, permohonan sang Ibu ditolak oleh sang Raja.

“Dasar kalian tidak tahu diri! Dikasih sedepa minta sejengkal pula. Bukankah semua kebutuhan hidup sehari-hari kalian telah aku penuhi!” bentak sang Raja.

Alangkah sedihnya hati sang Ibu mendengar bentakan itu. Ia pun mengajak Banta kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Banta Seudang berusaha menenangkan hati ibunya.

“Sudahlah, Bu! Ibu tidak usah bersedih begitu. Kita seharusnya bersyukur karena Pakcik sudah banyak membantu kita,” bujuk si Banta.
“Banta! Kamu memang Anakku yang baik. Tapi, kamu harus sekolah seperti teman-teman sebayamu,” kata sang Ibu.

Mendengar perkataan itu, si Banta tiba-tiba berpikir bahwa apa yang dikatakan ibunya itu benar. Maka timbullah pikirannya untuk mencari obat mata untuk ayahnya. Jika kelak ayahnya bisa melihat lagi, tentu sang Ayah bisa mencari nafkah sendiri dan dapat membantu biaya sekolahnya.

Pada suatu hari, Banta Seudang menyampaikan niatnya kepada ibunya.
“Bu, Banta ingin pergi mencari obat mata untuk Ayah agar dapat kembali bekerja seperti biasanya dan Banta pun bisa sekolah,” ungkap Banta Seudang.

“Baiklah, Anakku! Ibu merestuimu. Pergilah mencari obat mata untuk Ayahmu. Ibu doakan semoga kamu berhasil,” kata sang Ibu.
Sang Ibu pun menyampaikan maksud Banta tersebut kepada ayah Banta. Dengan senang hati, sang Ayah pun merestui perjalanan Banta mencari obat.
Keesokan harinya, dengan bekal seperlunya, berangkatlah Banta Seudang untuk mencari obat. Ia berjalan seorang diri menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai, menaiki gunung, dan menuruni lembah-lembah. Setelah berbulan-bulan berjalan, ia pun tiba di sebuah hutan rimba yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar. Di tengah hutan itu, ia menemukan sebuah balai. Ia pun memutuskan untuk melepas lelah di balai itu. Ketika sedang merebahkan tubuhnya, tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.

‘Kenapa ada balai di tengah hutan ini? Wah, pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini,” pikirnya dalam hati.
Ternyata benar. Menjelang waktu Ashar, tiba-tiba beberapa orang berjubah putih datang ke balai itu. Mereka lalu melakukan shalat secara berjamaah. Dengan hati bertanya-tanya, Banta hanya diam sambil memerhatikan perilaku orang-orang tersebut. Beberapa saat kemudian, Banta tiba-tiba melihat sebuah peristiwa ajaib. Begitu selesai shalat, orang-orang yang berjubah putih tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya. Rupanya, Banta tidak tahu bahwa mereka itu adalah arwah-arwah para Aulia (Wali) Allah.

Setelah menyaksikan peristiwa itu, Banta kemudian berpikir akan mendekati imamnya ketika para Wali tersebut melaksanakan shalat.
“Jika mereka selesai shalat, aku akan langsung memegang tangan sang Imam agar tidak menghilang,” pikirnya.

Banta Seudang pun tinggal di balai itu menunggu kedatangan para Wali. Ketika waktu shalat Magrib tiba, para Wali tersebut datang untuk melaksanakan shalat. Banta Seudang pun segera duduk di samping imam. Begitu imam selesai shalat, ia langsung memegang tangannya.

“Hai, Anak Muda! Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya imam itu.
‘Maaf, Tuan! Saya memegang tangan Tuan supaya tidak menghilang,” jawab Banta.

“Kalau saya boleh bertanya, siapakah Tuan-tuan ini sebenarnya? Kenapa Tuan-tuan bisa tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja?” tanya Banta heran.

“Kami adalah para Aulia Allah,” jawab imam itu.
“Engkau sendiri siapa? Kenapa bisa berada di tempat ini?” imam itu balik bertanya kepada Banta.
“Saya Banta Seudang, Tuan! Saya hendak mencari obat mata untuk Ayah saya,” jawab Banta.
‘Memang kenapa mata Ayahmu?” tanya imam itu.
“Mata ayah saya buta, Tuan! Saya ingin agar mata Ayah saya bisa melihat lagi,” jawab Banta.

“Engkau adalah anak yang berbakti. Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini saja. Nanti akan datang gajah putih ke balai ini. Ikuti gajah putih itu ke mana pun pergi,” ujar sang Imam dan langsung menghilang.

Betapa senang hati Banta Seudang mendapat petunjuk dari Wali itu. Tidak berapa lama ia menunggu, tiba-tiba datanglah seekor gajah putih ke balai itu. Setelah mendapat isyarat dari gajah itu, Banta pun segera naik ke atas punggung gajah. Sang gajah berjalan menyusuri hutan belantara menuju ke sebuah lembah di mana terdapat sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Di pinggir sungai terdapat sebuah pohon besar yang dihuni oleh Jin Pari yang memiliki baju terbang. Melihat kedatangan Banta bersama gajah putih itu, Jin Pari pun segera menyambut mereka.

“Jangan takut, Anak Muda! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Kamu ingin mencari obat mata untuk Ayahmu bukan?” tanya Jin Pari kepada Banta.

“Benar, Jin Pari!” jawab Banta.
“Baiklah kalau begitu. Aku tahu cara untuk menyembuhkan mata Ayahmu. Di tengah sungai itu, terdapat sebuah bunga ajaib, namanya bunga bangkawali,” ungkap Jin Pari.

“Bagaimana saya bisa mendapatkannya, Jin?” tanya Banta bingung.
Jin Pari pun bercerita kepada Banta Seudang bahwa setiap jumat ada tujuh putri raja dari negeri lain datang ke sungai itu untuk mandi-mandi. Untuk menjaga sungai itu, raja negeri lain menugaskan seorang perempuan tua bernama Mak Toyo. Ia tinggal di sekitar sungai itu. Setiap kali ketujuh putri raja selesai mandi di sungai itu, Mak Toyo turun ke sungai untuk menepuk air tiga kali. Setelah itu bunga ajaib ‘bangkawali’ akan muncul di atas permukaan air. Oleh karena itu, Banta harus meminta bantuan Mak Toyo untuk mendapatkan bunga ajaib itu.

Pada suatu malam, Jin Pari bersama Banta Seudang mendatangi tempat tinggal Mak Toyo. Perempuan penjaga sungai itu pun bersedia membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu, tapi dengan satu syarat.

“Cucuku, jika ingin mendapatkan bunga bangkawali itu, kamu harus mengambilnya sendiri dengan berenang ke tengah sungai itu,” ujar Mak Toyo kepada Banta.

Setelah mendapat penjelasan dari Mak Toyo, Jin Pari dan Banta pun mohon diri. Untuk melaksanakan syarat Mak Toyo, Banta harus menunggu hingga hari jumat. Maka ketika hari jumat tiba, ketujuh putri raja yang cantik-cantik tersebut datang dengan baju terbang mereka hendak mandi di sungai. Usai berganti pakaian, mereka lalu turun ke sungai dan berenang sambil tertawa bersuka ria.

Ketika hari menjelang sore, ketujuh putri raja selesai mandi. Mereka pun segera mengenakan baju terbang masing-masing lalu terbang ke angkasa. Setelah mereka pergi, Mak Toyo segera turun ke sungai lalu menepuk air tiga kali. Setelah itu, muncullah bunga bangkawali di atas permukaan air sungai. Banta Seudang pun segera terjun ke dalam sungai. Dengan susah payah, ia berenang ke tengah sungai untuk mengambil bunga bangkawali tersebut dan kemudian kembali ke tepi sungai.

“Mak Toyo! Aku sudah mendapatkan bunga bangkawali. Terima atas kebaikan, Mak!” ucap Banta Seudang.
“Ya, sama-sama. Segeralah bawa bunga ajaib itu untuk ayahmu!” kata Mak Toyo.

Keesokan hari, Banta Seudang berpamitan kepada Mak Toyo dan Jin Pari. Namun karena mengetahui perjalanan yang akan ditempuh Banta Seudang sangat jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka Maka Toyo dan Jin Pari pun bersepakat untuk mengantar Banta Seudang. Jin Pari dan Banta Seudang terbang dengan menggunakan baju terbang, sedangkan Mak Toyo menunggangg gajah putih. Dalam waktu sehari, mereka pun tiba di negeri Banta Seudang ketika hari mulai sudah gelap. Banta Seudang yang melihat rumahnya sepi dan tampak gelap, segera berteriak memanggil ibunya.

“Ibu.. Ibu! Banta sudah pulang membawa obat mata untuk ayah!” teriak Banta Seudang dari depan rumahnya.
“Ya, masuklah anakku! Ibu sedang sibuk memperbaiki lampu minyak,” teriak sang Ibu.

Banta Seudang pun masuk ke dalam rumah bersama Mak Toyo dan Jin Pari.
“Kenapa gelap begini? Di mana lampu minyaknya, Bu?” tanya Banta.
“Lampunya kehabisan minyak. Ibu baru mengisinya,” jawab sang Ibu.
Beberapa saat kemudian, lampu minyak itu pun menyala. Sang Ibu segera memeluk Banta Seudang karena sudah lama sekali merindukannya. Banta Seudang pun memperkenalkan Mak Toyo dan Jin Pari kepada kedua orangtuanya.

“Bu, ini Mak Toyo dan Jin Pari. Merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan obat mata untuk ayah,” jelas Banta Seudang.
Ibu Banta Seudang pun tidak lupa berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari yang telah membantu Banta Seudang.

“Bagaimana keadaan ayah dan Ibu selama Banta pergi?” Banta Seudang kembali bertanya.

Mendengar pertanyaan Banta, sang ibu terdiam sejenak. Dengan wajah sedih, sang Ibu kemudian bercerita bahwa selama kepergian Banta Seudang, Pakciknya tidak pernah lagi membantu mereka. Terpaksalah sang ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Betapa sedih dan terharunya Banta Seudang mendengar cerita ibunya.

“Benar, anakku! Pakcikmu memang sungguh keterlaluan dan tidak tahu diri. Sejak kamu pergi, dia tidak pernah lagi memberi kami makanan. Seandainya Ayah tidak buta begini, Ayah pasti sudah menghajarnya,” sahut sang Ayah dengan geram.

“Sabar, Ayah! Banta membawakan obat mata untuk Ayah,” kata Banta menenangkan hati sang ayah.

Setelah keadaan tenang, Banta Seudang segera mengambil semangkuk air, lalu mencelupkan bunga bangkawali yang ia bawa ke dalam mangkuk. Setelah beberapa saat, ia mengusapkan air dari mangkuk itu ke mata ayahnya hingga tiga kali.
“Ayah! Cobalah buka mata Ayah pelan-pelan!” pinta Banta Seudang.
Sang Ayah pun pelan-pelan membuka matanya. Sungguh ajaib, matanya dapat melihat seketika. Alangkah bahagianya sang Ayah dapat melihat wajah putranya.

“Sejak kamu dilahirkan, barulah kali ini Ayah bisa melihat wajahmu, Anakku! Ayah sangat bangga padamu. Berkat usaha dan perjuanganmu, mata Ayah dapat melihat kembali seperti semula,” ucap sang Ayah seraya merangkul Banta Seudang.

“Seharusnya, Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, karena merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu,” kata Banta Seudang.

Setelah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, sang Ayah pun membuka rahasia mengenai siapa diri mereka sebenarnya.

“Ketahuilah, anakku! Sebenarnya, Ayah adalah Raja negeri ini. Sejak mata Ayah buta akibat terkena ranting kayu ketika berburu di hutan, kerajaan Ayah serahkan kepada Pakcikmu. Namun, ketika menjadi Raja, Pakcikmu telah lupa diri dan mencampakkan kita,” ungkap sang Ayah.

Betapa terkejutnya Banta Seudang mendengar penjelasan ayahnya. Ia baru mengerti bahwa ternyata ayahnya adalah seorang raja. Selama ini ia mengira bahwa pakciknya adalah seorang raja yang baik, karena telah memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ternyata pakciknya adalah seorang raja yang licik dan serakah. Mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bangka Seudang pun berniat membantu ayahnya untuk mengembalikan tahta kerajaan kepada ayahnya. Demikian pula Mak Toyo dan Jin Pari yang setelah mendengar cerita ayah Banta Seudang, juga bersedia ikut membantu.

Keesokan harinya, mereka pun berangkat ke istana. Ayah dan ibu Banta Seudang terbang bersama Jin Pari dengan menggunakan baju terbang. Sedangkan Banta Seudang dan Mak Toyo menunggang gajah putih. Sesampainya di istana, alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat kedatangan sang kakak bersama rombongannya. Apalagi setelah mengetahui kedua mata kakaknya dapat melihat kembali.

“Apa maksud kedatangan Kakak kemari?” tanya sang Raja.
“Hai, Adikku! Engkau memang adik yang tidak tahu diri. Kakak berikan tahta kerajaan ini untuk sementara, tapi engkau malah mencampakkan Kakak bersama permaisuri dan putraku selama bertahun-tahun. Kini saatnya Kakak harus mengambil kembali tahta kerajaan ini!” seru sang Kakak.

“Ha… ha… ha…! Akulah penguasa negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menggantikanku sebagai Raja. Aku memiliki banyak pengawal dan prajurit. Tapi, kalau Kakak berani merebut kembali tahta ini, hadapi dulu para pengawal dan prajuritku!” seru sang Raja sambil tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya.

Mak Toyo dan Jin Pari yang juga hadir di tempat itu sangat geram melihat keangkuhan sang Raja. Oleh karena mereka mengetahui permasalahan yang sebenarnya, maka tanpa diperintah ayah Banta Seudang, mereka langsung menyerang sang Raja. Dengan satu pukulan saja, sang Raja pun jatuh tersungkur tidak sadarkan diri di depan singgasananya. Para pengawal raja yang melihat peristiwa itu, tak seorang pun yang mau membantu sang Raja, karena mereka juga mengetahui keadaan sebenarnya.

Ketika sadarkan diri, sang Raja bersama keluarganya diusir dari istana. Ayah Banta Seudang pun kembali menjadi raja menggantikan adiknya yang serakah dan angkuh itu. Akhirnya, Banta Seudang bersama keluarganya kembali tinggal di istana dan ia pun bisa bersekolah. Sementara Mak Toyo dan Jin Pari diangkat sebagai pengawal istana.
* * *


Demikian cerita Banta Seudang dari Daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat berbakti kepada orangtua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras dan akibat buruk dari sifat tidak tahu diri.

Pertama, keutamaan sifat berbakti kepada orangtua. Sifat ini ditunjukkan oleh sifat dan perilaku Banta Seudang yang telah berusaha menyembuhkan mata ayahnya. 
Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
apa tanda Melayu jati,kepada ibu bapa ia berbaktiapa tanda Melayu menakah,memelihara ibu bapa tahan bersusah
Kedua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Banta Seudang. Berkat kerja keras dan kesungguhannya, ia berhasil menyembuhkan mata ayahnya. 

Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:
wahai ananda kesayangan ayah,bekerja jangan ingatkan susahtahankan olehmu penat dan lelahsupaya kelak hidupmu menakah
Ketiga, akibat buruk dari sifat tidak tahu diri. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Pakcik Banta Seudang. Ia diberi kekuasaan untuk menduduki tahta kerajaan, malah justru mengabaikan kakaknya. Akibatnya, ia pun diusir dari istana ketika mata kakaknya sembuh dari kebutaan. 

Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:[1]
apa tanda orang celaka,tak tahu diri besar kepalabila bercakap mengada-adabila bekerja tidak menyudah
apa tanda orang terbuang,tak tahu diri iman pun kurangbergaul tidak tahu menenggangberjalan seiring ia menendang
[1]Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.

Karang Bolong

Cerita Rakyat dari Banten




Beberapa abad yang lalu tersebutlah Kesultanan Kartasura. Kesultanan sedang dilanda kesedihan yang mendalam karena permaisuri tercinta sedang sakit keras. 

Pangeran sudah berkali-kali memanggil tabib untuk mengobati sang permaisuri, tapi tak satupun yang dapat mengobati penyakitnya. Sehingga hari demi hari, tubuh sang permaisuri menjadi kurus kering seperti tulang terbalutkan kulit. 

Kecemasan melanda rakyat kesultanan Kartasura. Roda pemerintahan menjadi tidak berjalan sebagaimana mestinya. "Hamba sarankan agar Tuanku mencari tempat yang sepi untuk memohon kepada Sang Maha Agung agar mendapat petunjuk guna kesembuhan permaisuri," kata penasehat istana.

Tidak berapa lama, Pangeran Kartasura melaksanakan tapanya. Godaan-godaan yang dialaminya dapat dilaluinya. Hingga pada suatu malam terdengar suara gaib. 

"Hentikanlah semedimu. Ambillah bunga karang di Pantai Selatan, dengan bunga karang itulah, permaisuri akan sembuh." 

Kemudian, Pangeran Kartasura segera pulang ke istana dan menanyakan hal suara gaib tersebut pada penasehatnya. 

"Pantai selatan itu sangat luas. Namun hamba yakin tempat yang dimaksud suara gaib itu adalah wilayah Karang Bolong, di sana banyak terdapat gua karang yang di dalamnya tumbuh bunga karang," kata penasehat istana dengan yakin.


Keesokannya, Pangeran Kartasura menugaskan Adipati Surti untuk mengambil bunga karang tersebut. Adipati Surti memilih dua orang pengiring setianya yang bernama Sanglar dan Sanglur. Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka tiba di karang bolong. Di dalamnya terdapat sebuah gua. Adipati Surti segera melakukan tapanya di dalam gua tersebut. Setelah beberapa hari, Adipati Surti mendengar suara seseorang. 

"Hentikan semedimu. Aku akan mengabulkan permintaanmu, tapi harus kau penuhi dahulu persyaratanku." 

Adipati Surti membuka matanya, dan melihat seorang gadis cantik seperti Dewi dari kahyangan di hadapannya. Sang gadis cantik tersebut bernama Suryawati. Ia adalah abdi Nyi Loro Kidul yang menguasai Laut Selatan.


Syarat yang diajukan Suryawati, Adipati harus bersedia menetap di Pantai Selatan bersama Suryawati. 

Setelah lama berpikir, Adipati Surti menyanggupi syarat Suryawati. Tak lama setelah itu, Suryawati mengulurkan tangannya, mengajak Adipati Surti untuk menunjukkan tempat bunga karang. Ketika menerima uluran tangan Suryawati, Adipati Surti merasa raga halusnya saja yang terbang mengikuti Suryawati, sedang raga kasarnya tetap pada posisinya bersemedi. 

"Itulah bunga karang yang dapat menyembuhkan Permaisuri," kata Suryawati seraya menunjuk pada sarang burung walet. 

Jika diolah, akan menjadi ramuan yang luar biasa khasiatnya. Adipati Surti segera mengambil sarang burung walet cukup banyak. Setelah itu, ia kembali ke tempat bersemedi. Raga halusnya kembali masuk ke raga kasarnya.

Setelah mendapatkan bunga karang, Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya kembali ke Kartasura. Pangeran Kartasura sangat gembira atas keberhasilan Adipati Surti. 

"Cepat buatkan ramuan obatnya," perintah Pangeran Kartasura pada pada abdinya. Ternyata, setelah beberapa hari meminum ramuan sarang burung walet, Permaisuri menjadi sehat dan segar seperti sedia kala. Suasana Kesultanan Kartasura menjadi ceria kembali. Di tengah kegembiraan tersebut, Adipati Surti teringat janjinya pada Suryawati. Ia tidak mau mengingkari janji. Ia pun mohon diri pada Pangeran Kartasura dengan alasan untuk menjaga dan mendiami karang bolong yang di dalamnya banyak sarang burung walet. Kepergian Adipati Surti diiringi isak tangis para abdi istana, karena Adipati Surti adalah seorang yang baik dan rendah hati.


Adipati Surti mengajak kedua pengiringnya untuk pergi bersamanya. Setelah berpikir beberapa saat, Sanglar dan Sanglur memutuskan untuk ikut bersama Adipati Surti. 

Setibanya di Karang Bolong, mereka membuat sebuah rumah sederhana. Setelah selesai, Adipati Surti bersemedi. Tidak berapa lama, ia memisahkan raga halus dari raga kasarnya. 

"Aku kembali untuk memenuhi janjiku," kata Adipati Surti, setelah melihat Suryawati berada di hadapannya. 

Kemudian, Adipati Surti dan Suryawati melangsungkan pernikahan mereka. Mereka hidup bahagia di Karang Bolong. Di sana mereka mendapatkan penghasilan yang tinggi dari hasil sarang burung walet yang semakin hari semakin banyak dicari orang.

Putri Kandita

Cerita Rakyat dari BogorDiceritakan kembali oleh Samsuni


Alkisah, di daerah Pakwan (kini Kota Bogor), Jawa Barat, tersebutlah seorang raja bernama Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi yang bertahta di Kerajaan Pakuan Pajajaran. Ia adalah raja yang arif dan bijaksana. Sang Prabu juga mempunyai seorang permaisuri yang cantik jelita dan beberapa selir yang cantik-cantik. Dari hasil perkawinannya dengan sang permaisuri lahir seorang putri yang bernama Putri Kandita. 

Putri Kandita memiliki paras yang cantik melebihi kecantikan ibunya. Ia merupakan putri kesayangan Prabu Siliwangi. Ketika ia mulai dewasa, sifat arif dan bijaksana seperti yang dimiliki oleh sang ayah mulai muncul pada dirinya. Tidak mengherankan jika Prabu Siliwangi bermaksud mencalonkan Putri Kandita sebagai penggantinya kelak. Namun, rencana tersebut ternyata tidak disukai oleh para selir dan putra-putrinya yang lain. Oleh karena itu, mereka pun bersekongkol untuk mengusir Putri Kandita dan ibunya dari istana.

Suatu malam, para selir Prabu Siliwangi dan putra-putri mereka mengadakan pertemuan rahasia di dalam istana.

“Bagaimana cara menyingkirkan Putri Kandita dan permaisuri dari istana ini tanpa sepengetahuan Prabu?” tanya salah seorang selir.

“Kita harus berhati-hati karena jika Prabu mengetahui rencana ini, maka kita semua akan binasa,” ujar selir yang lain.

Sejenak, suasana pertemuan itu menjadi hening. Semuanya sedang berpikir keras untuk mencari cara yang paling tepat agar rencana mereka dapat terlaksana tanpa sepengetahuan Prabu Siliwangi.

“Sekarang aku tahu caranya,” sahut seorang selir yang lain memecah suasana keheningan.

“Apakah caramu itu?” tanya semua peserta rapat serentak.

“Aku mempunyai kenalan seorang dukun yang terkenal dengan kesaktian ilmu hitamnya. Dukun itu pasti mau membantu kita jika kita memberinya upah yang besar,” jawab selir itu.

Semua peserta rapat setuju dengan cara tersebut. Pada esok hari, para selir mengutus seorang dayang-dayang istana untuk menemui dukun itu di gubuknya di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari istana. Setelah menjelaskan maksud kedatangannya, utusan itu kemudian menyerahkan sejumlah keping uang logam emas kepada sang dukun. Tanpa berpikir panjang, sang dukun pun langsung menyanggupi permintaan para selir tersebut.

Setelah utusan selir itu kembali ke istana, sang dukun segera melaksanakan tugasnya. Dengan ilmu yang hitam dimiliki, dukun itu menyihir Putri Kandita dan ibunya dengan penyakit kusta sehingga sekujur tubuh mereka yang semula mulus dan bersih, timbul luka borok dan mengeluarkan bau tidak sedap. Prabu Siliwingi heran melihat penyakit borok itu tiba-tiba menyerang putri dan permaisurinya secara bersamaan. Ia pun segera mengundang para tabib untuk mengobati penyakit tersebut.

Para tabib dari berbagai negeri sudah didatangkan, namun tak seorang pun yang mampu menyembuhkan penyakit Putri Kandita dan sang permaisuri. Bahkan, penyakit sang permaisuri semakin hari semakin parah dan menyebarkan bau busuk yang sangat menyengat. Tubuhnya pun semakin lemah karena tidak mau makan dan minum. Selang beberapa hari kemudian, sang permaisuri menghembuskan nafas terakhirnya.

Kepergian sang permaisuri benar-benar meninggalkan luka yang sangat dalam bagi seluruh isi istana, khususnya Prabu Siliwingi. Sejak itu, ia selalu duduk termenung seorang diri. Satu-satunya harapan yang dapat mengobati kesedihannya adalah Putri Kandita. Namun harapan itu hanya tinggal harapan karena penyakit sang putri tak kunjung sembuh. Keadaan itu pun tidak disiasiakan oleh para selir dan putra-putrinya. Mereka bersepakat untuk menghasud Prabu Siliwangi agar segera mengusir Putri Kandita dari istana.

“Ampun, Baginda Prabu! Izinkanlah Hamba untuk menyampaikan sebuah saran kepada Baginda,” pinta seorang selir.

“Apakah saranmu itu, wahai selirku? Katakanlah,” jawab Prabu Siliwingi.

“Bagini Baginda. Kita semua sudah tahu bahwa keadaan penyakit Putri Kandita saat ini semakin parah dan sulit untuk disembuhkan. Jika sang putri dibiarkan terus tinggal di istana, Hamba khawatir penyakitnya akan membawa malapetaka bagi negeri ini,” hasud seorang selir.

Mulanya, Prabu Siliwangi merasa berat untuk menerima saran itu karena begitu sayangnya kepada Putri Kandita. Namun karena para selir terus mendesaknya, maka dengan berat hati ia terpaksa mengusir Putri Kandita dari istana. Dengan hati hancur, Putri Kandita pun meninggalkan istana melalui pintu belakang istana. Ia berjalan menuruti ke mana kakinya melangkah tanpa arah dan tujuan yang pasti. Setelah berhari-hari berjalan, Putri Kandita tiba di pantai selatan. putri Prabu Siliwingi yang malang itu bingung harus berjalan ke mana lagi. Di hadapannya terbentang samudera yang luas dan dalam. Tidak mungkin pula ia kembali ke istana.

“Ah, aku letih sekali. Lebih baik aku beristirahat dulu di sini,” keluh Putri Kandita seraya merebahkan tubuhnya di atas sebuah batu karang.

Sang Putri tampak begitu kelelahan sehingga dalam beberapa saat saja ia langsung tertidur. Dalam tidurnya, ia mendengar sebuah suara yang menegurnya.

“Wahai, Putri Kandita! Jika kamu ingin sembuh dari penyakitmu, berceburlah ke dalam lautan ini! Niscaya kulitmu akan pulih seperti sediakala,” ujar suara itu.

Putri Kandita pun cepat-cepat bangun setelah mendengar suara itu.

“Apakah aku bermimpi?” gumamnya sambil mengusap-usap matanya tiga kali.

Setelah itu, sang Putri mengamati sekelilingnya, namun tak seorang pun yang dilihatnya.

“Aku mendengar suara itu dengan sangat jelas. Tetapi kenapa tidak ada orang di sekitar sini? Wah, jangan-jangan ini wangsit,” pikirnya.

Cerita Rakyat dari Bogor
Diceritakan kembali oleh Samsuni

Meyakini suara itu sebagai sebuah wangsit, Putri Kandita pun menceburkan diri ke laut. Sungguh ajaib! Saat menyentuh air, seluruh tubuhnya yang dihinggapi penyakit kusta berangsur-angsur hilang hingga akhirnya kembali menjadi halus dan bersih seperti sediakala. Tidak hanya itu, putri kesayangan Prabu Siliwingi itu juga menjadi putri yang sakti mandraguna.

Meskipun telah sembuh dari penyakitnya, Putri Kandita enggan untuk kembali ke istana. Ia lebih memilih untuk menetap di pantai sebelah selatan wilayah Pakuan Pajajaran itu. Sejak menetap di sana, ia dikenal luas ke berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa sebagai putri yang cantik dan sakti. Para pangeran dari berbagai kerajaan pun berdatangan untuk melamarnya. Menghadapi para pelamar tersebut, Putri Kandita mengajukan sebuah syarat yaitu dirinya bersedia dipersunting asalkan mereka sanggup mengalahkan kesaktiannya, termasuk bertempur di atas gelombang laut yang ada di selatan Pulau Jawa. Namun, jika kalah adu kesaktian itu, maka mereka harus menjadi pengikut Putri Kandita.

Dari sekian banyak pangeran yang beradu kesaktian dengan Putri Kandita, tak seorang pun dari mereka yang mampu mengalahkan kesaktian sang Putri. Dengan demikian, para pelamar tersebut akhirnya menjadi pengikut Putri Kandita. Sejak itulah, Putri Kandita dikenal sebagai Ratu Penguasa Laut Selatan Pulau Jawa.


===========



Demikian cerita Putri Kandita dari daerah Bogor, Jawa Barat. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang teraniaya seperti Putri Kandita akan ditolong oleh Tuhan Yang Mahakuasa. Putri Kandita sebagai korban penganiayaan para selir Prabu Siliwingi dapat sembuh dari penyakit kusta berkat pertolongan Tuhan melalui wangsit yang diterimanya.

 Pesan moral lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang memiliki sifat iri hati dan dengki seperti para selir dapat melakukan kejahatan apa saja demi mencapai cita-citanya. Para selir tega mengusir Putri Kandita dari istana karena merasa iri terhadap sang Putri sebagai calon penerus tahta Kerajaan Pakuan Pajajaran. 

Padi Sebesar Kelapa

Dahulu kala di daerah Teluk Pandak terdapatlah sebuah padi sebesar buah kelapa. Masyarakat setempat tidak pernah tahu dari mana asalnya. Padi itu ditemukan oleh seorang penduduk di sekitar rumahnya. Padi yang ditemukan itu bukanlah padi lengkap dengan batangnya, namun hanya sebuah biji padi sebesar kelapa lengkap dengan cangkangnya. Penduduk Teluk Pandak percaya bahwa padi itu merupakan titisan dari Dewi Sri. Mereka seperti mendapatkan berkah dengan turunnya padi itu ke tempat mereka.

Saat musim tanam tiba, masyarakat membawa padi sebesar kelapa tersebut ke sawah yang akan ditanami. Setelah padi di tanam, masyarakat berkumpul untuk melakukan doa bersama agar padi yang ditanam mendapat berkah dari Tuhan. Sekelompok muda-mudi membawakan tari Dewi Sri. Tarian itu diiringi oleh lagu yang bersyair doa dan pujian kepada Tuhan. Lagu itu mereka namakan dengan Nandung. Kulit padi mereka pukul-pukul sebagai gendang pengiring tarian Dewi Sri.
Waktu terus berjalan. Musim panen pun tiba. Masyarakat kembali berkumpul dan bersama-sama melakukan panen. Panen pertama ini mereka lakukan hanya untuk sebagian kecil padi yang akan digunakan untuk acara makan bersama. Saat akan menuai padi, mereka menimang-nimang padi titisan Dewi Sri itu sambil melantunkan puji-pujian kepada Tuhan atas keberhasilan tanaman mereka. Padi yang sudah dituai kemudian diirik dengan kaki. Setelah itu padi dijemur. Setelah menjadi beras, padi itu dimasak dan dipersiapkanlah sebuah acara makan bersama. Dalam acara itu padi sebesar kelapa itu kembali dibawa. Sebelum makan mereka melagukan syair-syair yang intinya adalah syukuran, doa mohon keberkahan, dan keselamatan kepada Tuhan. Acara makan pun selesai. Keesokan harinya masyarakat secara bersama-sama memanen seluruh padi.

Setelah seluruh padi selesai dipanen, tumbuhlah anak padi dari bekas batang padi yang tinggal. ini lebih kecil. Mereka menamakan padi yang lebih kecil itu dengan Salibu. Padi itu ukurannya lebih kecil dari ukuran padi biasa. Salibu itu kemudian di panen. Setelah dipisahkan dari cangkangnya, Salibu kemudian digonseng dan ditumbuk hingga berbentuk emping. Proses menggonseng hingga menumbuk Salibu dilakukan oleh muda-mudi dari sore hingga malam hari. Selama proses itu tidak jarang ada muda-mudi yang akhirnya berjodoh. Emping dari Salibu kemudian dimakan bersama-sama dalam acara pernikahan muda-mudi yang berjodoh itu.

Percaya Kemampuan Diri Sendiri


WAKTU masih kecil, Anda mungkin pernah mendengar kisah adaptasi ‘The Little Engine That Could’? Buku itu bercerita tentang kereta api yang bergerak ke bukit dengan perlahan dan tersendat. Lokomotifnya berkata pada diri sendiri, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa.” Kereta pun terus bergerak perlahan naik hingga tiba di bukit dengan selamat.
Pelajaran sederhana yang dapat diberikan ialah: percayalah pada kemampuan diri sendiri. Seandainya lokomotif itu tidak percaya akan kemampuannya tiba di atas bukit, bisa jadi kisah dalam buku itu berakhir menyedihkan.
Bukan hanya lokomotif itu saja yang dapat mengatakan, “Aku bisa, aku bisa, aku bisa”, tetapi Anda pun dapat melakukan yang sama. William Arthur Ward, penulis kondang asal Amerika mengatakan, ”Saya adalah pemenang karena saya berpikir seperti pemenang, bersiap jadi pemenang, dan bekerja serupa pemenang.” Ward betul, jika Anda berpikir menjadi seorang pemenang, maka memang benar Anda seorang pemenang.
Kisah heroik lokomotif itu dalam dunia nyata dibuktikan sendiri oleh Hendrawan, atlet bulutangkis Indonesia. Tahun 1997, Hendrawan dinyatakan sudah habis oleh PBSI. Karena faktor usia dan prestasinya yang menurun, PBSI bermaksud mengeluarkan Hendrawan dari Tim Pelatnas. Tapi Hendrawan punya keyakinan sendiri, bahwa ia percaya kemampuannya dan belumlah habis. Hendrawan masih percaya bahwa ia dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Dengan keyakinan dan kepercayaan diri yang tinggi, dan diiringi kerja keras yang tidak lelah, Hendrawan menunjukkan kepada dunia bahwa ia memang mampu meraih prestasi luar biasa.
Hendrawan membuktikan kemampuannya telah sempat dinyatakan sudah habis. Tahun 1998, Hendrawan menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Juga ia menjuarai Singapura Terbuka. Kemudian di tahun 2000, Hendrawan kembali menjadi penentu kemenangan Tim Thomas Indonesia. Di tahun itu pula ia mengukir namanya dengan meraih medali perak dalam Olimpiade Sydney. Masih di tahun yang sama, ia menjadi runner up Jepang Terbuka. Dan pada tahun 2001, ia menjadi Juara Dunia Tunggal Putra, sebuah gelar yang menjadi idaman pebulutangkis manapun di dunia. Tahun 2002, ia kembali membawa Indonesia mempertahankan Piala Thomas ke Tanah Air.
Percaya kemampuan diri sendiri tak harus ditunjukkan oleh mereka yang berprofesi sebagai atlet, yang bekerja di kantoran, yang mempunyai stamina fisik yang prima, atau mereka yang masih muda dan memiliki semangat menggebu-gebu. Percaya pada diri sendiri, percaya akan kemampuannya, dapat ditunjukkan oleh siapa pun. Tanpa mengenal pekerjaan, status, umur, dan jenis kelamin.
Tahun 1988, nama Mak Eroh sempat menyedot publik nasional. Saat itu, semua orang ramai memperbincangkannya . Mak Eroh, waktu itu berumur 50 tahun, perempuan dari Kampung Pasirkadu, Desa Santana Mekar, Kecamatan Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memang telah mengukir prestasi besar.
Apa yang membuat nama Mak Eroh melambung? Mak Eroh, bergelantungan seorang diri di lereng yang tegak di tebing cadas, di lereng timur laut Gunung Galunggung. Mak Eroh berhasil berjuang sendirian membuat saluran air sepanjang 47 hari. Ketika pertama kali Mak Eroh melakukannya, banyak masyarakat sekitar yang mencibir tindakannya. Tapi hal itu tidak menyurutkan langkahnya untuk terus bekerja. Mak Eroh percaya akan kemampuan nya, walau saat itu usianya boleh dibilang tidak muda. Seorang wanita yang mustinya menikmati hari tuanya dengan menimang atau bermain dengan cucu.
Mak Eroh yang hanya mengecap pendidikan hingga kelas III SD dan memiliki tiga orang anak, dalam aksinya menggunakan tali areuy, tali sejenis rotan sebagai penahan ketika bergelantungan. Sedangkan alat yang dipakai untuk ‘mengebor’ tebing cadas hanyalah cangkul dan balincong, serupa linggis pendek.
Saluran untuk mengalirkan air dari Sungai Cilutung akhirnya berhasil diselesaikan. Berhentikah tindakan Mak Eroh mengebor tebing cadas? Belum. Dengan semangat yang tak kenal menyerah, Mak Eroh melanjutkan membuat saluran air berikutnya sepanjang 4,5 kilometer mengitari 8 bukit dengan kemiringan 60-90 derajat. Bukan main! Pengerjaannya kali ini dibantu oleh warga desa yang mau membantunya, setelah melihat dengan mata kepala sendiri hasil yang telah dilakukan Mak Eroh. Dalam waktu 2,5 tahun, pekerjaan lanjutan itu terselesaikan dengan baik. Hasilnya? Bukan hanya lahan pertanian sawah Desa Santana Mekar yang terairi sepanjang tahun. Tapi juga dua desa tetangga yang ikut menikmati kucuran air hasil kerja keras Mak Eroh setelah warganya membuat saluran penerus, yaitu Desa Indrajaya dan Sukaratu.
Aksi Mak Eroh akhirnya sampai juga ketelinga Presiden Suharto. Atas aksinya yang tergolong berani dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat sekitar, Mak Eroh mendapat penghargaan Upakarti Lingkungan Hidup pada tahun 1988. Setahun kemudian, dia juga meraih penghargaan lingkungan dari PBB.
Dua kisah di atas memberi hikmah bahwa sebenarnya kita memiliki kepercayaan diri yang tinggi atas kemampuan yang dimiliki. Seperti yang dikatakan oleh Mary Kay Ash, pengusaha kosmetik sukses asal Amerika, ”Anda bisa melakukannya jika Anda berpikir demikian, dan jika Anda kira tidak dapat melakukannya, Anda benar.” Percaya akan kemampuan diri sendiri. Jadilah lokomotif, dan teruslah bergerak untuk maju.
“Jika ada keyakinan yang dapat menggerakkan gunung, itu adalah keyakinan dalam diri Anda.”
– Marie von Ebner-Eschenbach, penulis, 1830-1916
Wahyu © 2008 Template by:
SkinCorner